GEREJA, PAGUYUBAN MURID-MURID KRISTUS

ARTI KATA “GEREJA”

(Andar Ismail, “Selamat Bergereja”)

Kata “gereja” diambil dari kata Portugis “igreya”. Kata ini memiliki akar dalam bahasa Yunani, yaitu kata “ekklesia”. Kata ekklesia berarti dipanggil keluar atau diundang. Sebagai contoh, jika sebuah desa ada rapat atau pertemuan, maka semua lelaki dewasa dipanggil keluar. Rapat ini disebut ekklesia.

Ketika pada abad pertama para pengikut Yesus berkumpul, kumpulan atau komunitas itu juga disebut ekklesia (bkd. Kis 15:41 “… sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ” [episterizon tas ekklesias]). Inilah asal usul kata “gereja”.

Bagaimana dengan kata “church” dalam bahasa Inggris? Apa juga berasal dari kata “ekklesia”? bukan. Asalnya dari kata Yunani “kuriake”, yang berarti “pengikut atau abdi kurios”. Kurios adalah tuan tanah atau orang yang memiliki kuasa penuh. Kuriake dengan demikian adalah para budak milik tuan tanah, karena mereka adalah milik kurios.

Pada abad pertama, Yesus disebut kurios oleh para pengikutNya. Dalam Alkitab, kurios diterjemahkan menjadi Tuhan. Pengakuan iman gereja perdana berbunyi: “Yesus adalah Tuhan (1Kor 12:3 “Kurios Iesous”). Para pengikut Yesus mengakui bahwa mereka mengabdi pada Kurios yang bernama Yesus. Oleh karena itu, komunitas mereka disebut kuriake.

Jadi, gereja adalah ekklesia, yaitu komunitas yang dipanggil keluar, dan kuriake, yaitu komunitas yang mengabdi kepada Tuhan. Kita adalah orang yang dipanggil keluar oleh Tuhan. Keluar dari mana? Menurut 1 Ptr 2:9, kita dipanggil keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang. Menurut 1 Ptr 1:3, kita dipanggil keluar dari keputusaan dan masuk dalam terang. Menurut Roma 8:21, kita dipanggil keluar dari perbudakan dosa dan masuk ke dalam kemerdekaan anak-anak Allah. Kita semua dipanggil keluar dari kehidupan semula (lama) untuk masuk dalam kehidupan baru.

TIGA BENTUK ORGANISASI GEREJA

(Andar Ismail, “Selamat Bergereja”)

Tiap gereja mempunyai cara mengatur dirinya. Berbagai cara ini dipadatkan menjadi tiga bentuk sistem organisasi gereja.

Pertama, bentuk EPISKOPAL. Sebutan ini berasal dari kata Yunani episkopos yang berarti penilik atau pemelihara. Dari kata ini kemudian muncul kata uskup atau bishop. Dalam gereja episkopal ada seorang atau beberapa orang rohaniwan di tingkat pusat yang berwenang lebih tinggi daripada rohaniwan lain, termasuk m engangkat dan memberhentikan sesa ma rohaniwan.

Gereja episkopal tersusun secara berderajat atau hierarki yang bertangga, mulai dari pucuk pimpinan terus turun sampai paling bawah, yaitu kaum awam atau anggota biasa yang tidak berwenang apa-apa.

Ciri gereja episkopal adalah semua gereja lokalnya serba sama dan serba baku. Pucuk pimpinan menetapka dogma, ajaran dan peraturan yang berlaku di tiap gereja lokal. Liturgi ibadat dan bacaan liturgi ditetapkan dari pusat. Ciri lainnya adalah peninggian jabatan rohaniwan. Rohaniwan mengenakan jubah aneka warna dengan berbagai aksesori seperti stola, kasula, salib atau yang lain. Peneguhan jabatan rohanaiwan (tahbisan) dilakukan secara seremonial. Secara kasat mata, tampak bahwa gereja berbentuk episkopal tersusun rapi, teratur, sinkron, kokoh dan kuat. Bentuk episkopal digunakan oleh Gereja Katolik, Anglikan, Ortodoks, dan satu atau dua gereja Protestan.

Kedua, bentuk KONGREGASIONAL. Sebutan ini berasal dari kata Latin “congregatio” yang berarti hubungan orang-orang sepaham, dalam hal ini gereja lokal. Dalam gereja berbentuk kongregasional, tiap gereja lokal berdiri sendiri dan sama sekali tidak bergantung atau terikat pada ikatan yang lebih luas. Tidak ada hierarki apa pun. Jika ada pengurus pusat, maka pengurus pusat itu tidak berwenang apa-apa. Jika semua gereja lokal berwidang, maka keputusannya bersifat lepas. Hubungan antara gereja lokal yang satu dengan gereja lokal yang lainbersifat sangat longgar.

Dalam gereja kongregasional tidak ada dogma, ajaran atau peraturan yang baku. Tiap gereja lokal bebas menentukan dogma, ajaran atau peraturan sendiri. Tiap gereja lokal menentukan cara beribadah masing-masing. Tidak ada pola liturgi. Tiap pengkotbah bebas menentukan tata unsur ibadah dan bebas memakai nyanyian dari sumber mana pun.

Ciri dari gereja berbentuk kongregasional adalah peranan kaum awam yang sangat besar, sehingga peranan pendeta tidak menonjol. Tidak ada sebutan pendeta. Awam dan pendeta disebut dengan sebutan sama, yaitu “Saudara”. Di mimbar, pendeta mengenakan pakaian biasa. Bahkan ada gereja yang menolak jabatan pendeta, karena berkeyakinan bahwa tiap anggota memiliki panggilan imamat. Di dalam gereja lokal tidak ada badan pengurus atau majelis gereja, karena semua wewenang dan tugas ada pada seluruh anggota. Oleh karena itu, gereja lokal tiap bulan atau tiap minggu mengadakan rapat anggota untuk menentukan berbagai urusan. Tetapi ada kalanya dalam sebuah gereja lokal ada seseorang yang mempunyai pengaruh besar daripada yang lain, sehingga ia memiliki kekuasaan bendawi dan rohani.

Bentuk kongregasional ini dipakai oleh hampir semua gereja beraliran Pentakostal, Karismatik, Baptis dan kebanyakan gereja di luar aliran utama Protestan. Ada juga satu atau dua gereja Protestan yang memakai sistem ini.

Ketiga, bentuk PRESBITERIAL atau PRESBITERIAL SINODAL. Sebutan ini berasal dari kata Yunani presbuteros (presbuteros) yang berarti pentua, dan sun-hodos (sun hodos) yang berarti jalan bersama.

Dalam gereja presbiteral, gereja lokal dipimpin oleh sebuah badan yang terdiri dari sejumlah penatua dan pendeta. Badan ini dipilih oleh anggota untuk amsa jabatan tertentu dan disebut MAJELIS JEMAAT atau MAJELIS GEREJA.

Pengelolaan dan kegiatan sehari-hari dilakukan oleh badan gereja lokal ini. Namun, dalam hal-hal yang lebih emndasar, badan ini tidak berjalan sendiri tetapi bersama-sama dengan badan gereja lokal lainnya. Gereja lokal yang satu menyepakati berbagai hal dengan gereja yang lain melalui sidang yang disebut SINODE. Oleh sebab itu, sistem ini disebut presbiterial-sinodal.

Semua hal yang mendasar seperti dogma, ajaran, peraturan, pola liturgi, dan buku nyanyian disepakati dalam sinode. Biasanya gereja bersinode dua atau empat tahun sekali. Semua keputusan sinode bersifat mengikat, dan pelaksanaannya dikoordinasi oleh sebuah badan pekerja yang dipilih setiap kali gereja itu bersinode.

Gereja berbentuk presbiterial tidak mengenal hierarki. Para penatua dan pendeta mempunyai status yang sama. Gereja lokal merupakan lembaga tunggal perwujudan gereja. Sinode bukan perwujudan gereja, melainkan sebuah sidang yang berlangsung selama beberapa hari. Badan pekerja sinode bukan pucuk pimpinan melainkan sebuah satuan tugas koordinasi dalam masa selang antara sinode yang lalu dengan sinode berikut.

Dalam gereja presbiterial tidak ada hierarki antara pendeta dan awam. Gereja ini menekankan syarat bahwa pendeta perlu terpelajar, namun tidak meninggikan jabatan pendeta. Hanya jika bertugas di mimbar, pendeta mengenakan pakaian jabatan berupa toga hitam dan dasi putih tanpa aksesori apa pun. Pelantikan pendeta sangat sederhana, dan dilakukan dalam ibadah hari minggu. Bentuk presbiteral dipakai oleh hampir semua gereja beraliran Calvinis, tetapi ada juga gereja lain yang memakai sistem ini.

GEREJA, PAGUYUBAN

(KomKat KAS, “Mengikuti Yesus Kristus 1”)

Gereja  merupakan paguyuban-paguyuban terbuka dari persekutuan orang-orang yang mengikuti Yesus Kristus, yang dibimbing oleh Roh Kudus menuju Bapa.

Gereja merupakan paguyuban. Mereka bergabung karena Allah dan karena Yesus Kristus. Gereja sudah dimulai sejak Perjanjian Lama. Allah memilih kelompok khusus sebagai umat “terpilih”, bahkan bangsa terpilih, dengan memanggil mereka secara khusus dan menempatkan mereka di tanah terjanji. Allah membangun kelompok ini secara khusus.

Sebagai bangsa manusia, mereka memiliki kelemahan dan kekurangan. Mereka melakukan banyak kekhilafan dan dosa. Namun Allah terus menjaga, memelihara, menghibur di kala sedih, membangkitkan di kala jatuh, dan mengembalikan mereka dari pembuangan. Sejarah bangsa ini berlangsung sangat panjang sampai saatnya Yesus Kristus datang. Namun, hanya kelompok kecil dari bangsa terpilih ini yang menerima Yesus.

Pada masa hidupNya, Yesus Kristus membangun kelompok Keduabelas Rasul yang dipilihnya secara istimewa, yang hidup dan berada bersama Yesus. Masyarakat zaman itu ada yang percaya kepada Yesus dan bergabung menjadi kelompok Yesus, tetapi banyak pula yang menolak Yesus secara mentah-mentah, bahkan memusuhiNya.sesudah wafat dan kebangkitan Yesus, para rasul tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tidak menyadari bahwa mereka dibangun menjadi kelompok khusus yang sekarang disebut Gereja. Dalam peristiwa Pentakosta, Roh Kudus datang. Oleh daya Roh Kudus, Rasul Petrus, orang sederhana yang pekerjaan sehari-hari mencari ikan, tiba-tiba secara berani berkotbah kepada umat yang datang dari segala penjuru. Setelah itu, tiap-tiap hari Allah menambah jumlah orang yang diselamatkan.

Hidup dan berkembangnya Gereja paguyuban murid-murid Yesus Kristus, tidaklah semata-mata karena usaha dan kemampuan manusia, melainkan lebih-lebih karena karya Allah sendiri.

GEREJA, TUBUH KRISTUS

Paguyuban orang-orang yang mengikuti Yesus Kristus dihimpun menjadi satu tubuh yang hidup dengan Kristus sebagai Kepala. Warga Gereja tersebar luas di seluruh bumi, namun mereka merupakan satu kesatuan dalam Kristus. “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. (1Kor 12:27).

Gereja hidup bila tetap berpegang pada Kristus, karena Gereja mendapatkan kehidupannya dari Kristus. Dengan bersumber pada Kristus, Gereja akan menghasilkan buah. Bila melepaskan diri dari Kristus, Gereja akan kering dan mati.

GEREJA DIBIMBING OLEH ROH KUDUS

Gereja adalah tubuh Kristus yang hidup. Roh Kudus, yaitu Roh Kristus, membimbing gerak Gereja. Gereja juga dikatakan sebagai Bait Roh Kudus (1Kor 12:12-13). Roh Kudus tinggal dalam Gereja. Roh Kudus membimbing perjalanan Gereja. Oleh Roh Kudus, Gereja dihantar kepada kebenaran, dipersatukan dalam persekutuan serta pelayanan, dibimbing dan diperlengkapi  dengan aneka kurnia, serta disemarakkan dengan karya-karyaNya. Roh Kudus terus menerus meremajakan Gereja dan tiada henti membarui serta mengantar Gereja ke dalam persatuan sempurna dengan Kristus dalam perjalanannya menuju Bapa. Dengan demikian, Gereja dipersatukan berdasarkan kesatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Warga Gereja adalah masyarakat manusia dengan segala kelemahan dan dalam kehidupannya mengalami jatuh bangun. Dalam kelemahan dan perjuangan itu, Gereja tetap ditopang oleh Roh Kudus. Roh Kudus pula yang membantu secara istimewa mereka yang diberi tugas mempersatukan umat

BUTIR-BUTIR TENTANG GEREJA MENURUT EFESUS 4:1-7

1. Antara Warga yang Satu dan yang Lain Sederajat

Di hadapan Allah semua manusia sederajat. Maka, antara warga yang satu dengan yang lain selayaknya saling menghargai, terguka, menolong, menghargai dan memperhatikan. Nasib warga yang satu adalah nasib semua anggota tubuh.

2. Semua Warga Punya Tanggung Jawab

Tidak ada warga yang luput dari tanggung jawab. Masing-masing mempunyai tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Tanggung jawab ini perlu dilaksanakan dengan sikap pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan.

3. Semua Warga Diharapkan Berperan sesuai dengan Kharismanya

Dalam Gereja yang satu, masing-masing mempunyai kharisma. Kharisma atau anugerah Roh Kudus untuk berkarya sebagai warga Gereja harus dicari dan dikembangkan terus menerus sesuai dengan tantangan Gereja yang dihadapi. Maka, setiap jemaat harus berperan sesuai dengan kharismanya.

4. Gereja Kelompok Kecil

Keguyuban dan persaudaraan Gereja dapat semakin nyata dalam kelompok kecil. Meskipun demikian, hal sebenarnya yang perlu diwujudkan adalah keguyuban dalam keluarga-keluarga Katolik. Dalam keluarga, iman tidak hanya diyakini, tetapi juga diwujudkan dan ditampakkan dalam segala aspek kehidupan keluarga secara nyata.

Sumber

1. Ismail, A. 2002. Selamat Bergereja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia

2. KomKat KAS. 1997. Mengikuti Yesus Kristus 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius